Kegigihan Warga Jeding Berburu Sumber Air, Bermodal Dengkul dan Pengetahuan Tanda Alam
By Faizal | December 10th, 2009 | Category: Air Minum |
Barang mewah bagi warga Dusun Jeding, Desa Junrejo, Kota Batu air merupakan kemewahan tiada tara. Ketika negara tidak bisa memenuhi kebutuhan itu Djuari, 57, dan Rasman, 67, menggali terowongan untuk menemukan sumber ‘kehidupan’ itu. <
Seberapa pun sulitnya, air tetap harus dicari, sekalipun harus membelah gunung atau melubangi cadas, karena air bukan kebutuhan yang bisa ditunda. Karena itulah Djuari dan Rasman nekat menggali berpuluh meter sampai menemukan air.
“Kalau mengandalkan sumber air yang ada sekarang, bisa-bisa dua tahun lagi warga Dusun Jeding yang membuat pemukiman baru tak mendapat jatah air,” ungkap Djuari, saat didatangi Surya, Sabtu (7/11).
Dusun Jeding memang sulit air. Selain kering, dusun ini memang tidak dilewati pipa PDAM Kota Batu. Untuk mengangkat air di dusun tinggi itu jelas diperlukan pompa besar. Tidak ada dana untuk itu. Jadi tidak ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan air warga dusun selain menggali dengan kekuatan dan kemampuan sendiri.
Lalu, awal 2009 kedua pria yang cuma lulusan sekolah dasar ini memulai mega proyek Dusun Jeding itu dengan modal dengkul. Karena itu, mereka hanya mengandalkan pengetahuan akan tanda-tanda alam untuk menggantikan teknologi canggih mencari sumber air.
“Kami hanya melihat di belakang rumah kami ada lekukan kecil. Artinya, di bagian bawahnya ada sumber air. Dari situ kami merencanakan penggalian,” jelas Djuari yang juga menjadi tenaga teknis Himpunan Masyarakat Pengguna Air Minum (Hipam) Jeding itu.
Cetak biru seperti di proyek-proyek modern jelas tidak ada. Sebagai gantinya mereka mengandalkan insting. Termasuk bagaimana menentukan arah galian yang tetap dan langsung menuju sumber air. Semua berdasarkan keyakinan dan gambar di awang-awang. “Blue print-nya dalam khayalan saja,” ungkap Djuari lantas tertawa.
Seperti banyak pelopor pemenang hadian lingkungan Kalpataru yang awalnya ditentang warga sekitar, demikian juga dengan Djuari dan Rasman. Namun demi tetesan air, mereka terus berkerja, menggali tiada henti. Untunglah beberapa warga lain membantu dengan kekuatan instingnya.
Dukungan mulai datang ketika mereka menemukan tanah lembab yang berarti air tidak jauh lagi. Benar saja, ketika terowongan itu mencapai kedalaman 65 meter air pun mulai terlihat. Harapan itu membuahkan dukungan yang lebih besar.
Sebenarnya temuan itu mendorong niat Hipam untuk melanjutkan penggalian hingga sumber lebih besar ditemukan. Namun niat itu harus dihentikan, karena dana yang cupet.
Untuk mengandalkan tenaga Djuari dan Rasman, tentu tak mungkin lagi karena terbagi untuk pekerjaannya. “Sesekali kami datang membersihkan dan menggali ke sini. Tetapi sekarang berhenti dulu karena kami juga dimintai bantuan membangun rumah di perumah Junrejo Permai,” ungkap Rasman